Telolet, Berujung Suka Berakhir Luka
Hari libur telah tiba, semua anak sekolah libur termasuk kakak-beradik
Sri dan Didin. Sri adalah siswa kelas 12 SMA N 2 Magelang sedangkan Didin,
adiknya kelas 9 bersekolah di SMP N 4 Magelang.
Sri menghabiskan waktu liburannya dengan membantu ibunya berjualan di
pasar dan bermain handphone sesekali mengecek sosial medianya sebagai hiburan. Selain
itu ia juga rajin melihat berita di televisi. Akhir akhir ini dunia memang
sedang di gencarkan dengan adanya “Demam Telolet”. Telolet sendiri berasal dari
bunyi klakson bus besar yang pada waktu itu tidak sengaja dibunyikan kepada
anak-anak asal purworejo yang meminta telolet dengan perkataan “Om telolet Om”.
Kemudian kejadian itu tidak sengaja direkam oleh salah satu orang yang ada
disitu dan menguploadnya ke sosial media. Dalam waktu sekejap video itu viral
hingga menyeluruh ke seluruh dunia.
Tak ketinggalan demam tersebut berpengaruh kepada adik Sri yaitu Didin.
Pagi ini Didin berpamitan kepada Sri untuk pergi main. “Mbak Didin main
sebentar boleh ndak?” ucap Didin. “Mau kemana kamu, Le?” jawab Sri, kakak
Didin. “ Ya pokoknya main sebentar cari telolet, Mbak” jawab Didin. “Yasudah
jangan sore-sore ya, Le nanti dimarahin ibu” perintah Sri. “Inggeh, Mbak siap”
jawab Didin.
Setelah berpamitan Didin langsung pergi dengan teman-temannya yang sudah
menunggunya di depan rumah. Didin dan temannya pergi ke pinggir jalan sambil
membawa kertas bertuliskan “Om Telolet
Om” sambil dibentangkan dan menunggu bus lewat. Tak lama kemudian ada bus besar
lewat dan membunyikan klakson telolet. Didin dan teman-temannya pun bersorak
kegirangan. Mereka sampai tak ingat waktu.
Waktu menunjukan pukul 5 sore, Bu Janah, ibu Didin pulang dari berjualan
di pasar. Sesampainya di rumah ia hanya melihat Sri. “Sri, Didin kemana sudah
sejak tadi pagi aku tidak melihat wajahnya?” tanya Bu Janah, ibu Didin. “Didin
pergi bersama teman-temanya ke pinggir jalan raya. Katanya sih mau Telolet, Bu”
jawab Sri. “ O alah Din, Telolet ki panganan opo. Lha, mbok baca sholawat di
rumah bisa untuk sangu akhirat” tegas Bu Janah. “Kalau begitu saya tak nyari
Didin dulu ya, Bu” tanya Sri. “Orausah nduk kalo wes sayah kan yo mulih” jawab
Bu Janah
Beberapa menit kemudian datang tetangga Bu Janah sambil berlari
tegesa-gesa menuju rumah Bu Janah. “Bu Janah...Bu janah... Didin, Bu” kata
tetangga Bu Janah. “Didin kenapa, Le?” tanya Bu Janah panik. “Didin dibawa ke
rumah sakit, Bu” jawab tetangga. “Astaghfirullah kok bisa to Ya Allah Ya Gusti”
tanya Bu Janah dengan nada syok. “Tadi Didin main-mainnya agak menengah ke
jalan, Bu jadi kesrempet mobil. Tetapi, untungnya Didin hanya lecet sedikit dan
yang menyrempet mau bertanggung jawab” jawab tetangga.
Tiba-tiba Didin pulang diantar oleh orang yang menyrempetnya dan langsung
memeluk ibunya. “Bu maafin Didin ya tadi Didin mainnya gak hati-hati” kata
Didin. “Makane to, Le nek sudah wayahe pulang ki ya pulang jangan
mentnag-mentang libur terus seenaknya sendiri. Main tu juga yang bermanfaat
jangan asal-asalan seperti itu. Kualat to akhire” nasihat Bu janah dengan nada
tinggi.“Bu saya minta maaf ya karena telah menyrempet anak ibu” kata orang yang
meyrempet Didin. “Ealah gapapa, Mas ini juga salah anak saya mainnya gak
hati-hati. Jawab Bu janah. “Kalau begitu saya pamit ya, Bu karena saya sudah
terlambat berangkat kuliahnya” kata orang yang menyrempet Didin. “Oh ya mas
hati-hati di jalan ya” nasihat Bu janah.
Akhirnya Didin dihukum Bu Janah untuk membantunya berjualan di pasar
semasa liburannya. Niat mencari hiburan ketika liburan malah berakhir luka
ditambah dengan kepenatan membantu ibu berjualan.